Pannika Jataka

PAṆṆIKA-JĀTAKA


“Ia yang seharusnya memberikan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang upasaka penjual sayuran di Sawatthi, yang memperoleh nafkah dengan menjual bermacam-macam akar tanaman dan sayuran, labu dan sejenisnya. Ia mempunyai seorang putri yang baik, suci, dan cantik, namun ia selalu tertawa. Saat ia dilamar untuk menikah oleh sebuah keluarga dengan lingkungan yang sama, ayahnya berpikir, “Ia harus menikah, namun ia selalu tertawa; dan seorang gadis yang tidak baik dinikahkan ke dalam sebuah keluarga yang asing akan membuat malu orang tua gadis tersebut. Saya harus memastikan apakah ia gadis yang baik atau bukan.”

Maka suatu hari ia meminta putrinya membawa sebuah keranjang dan ikut bersamanya ke hutan untuk mencari tanaman (herba). Untuk menguji putrinya, ia menggandeng tangan anaknya sambil membisikkan kata-kata cinta. Gadis itu langsung meledak dalam tangisan dan mulai berseru bahwa hal seperti itu sangat mengerikan seperti api yang menyala di atas air, dan memohon ayahnya untuk menahan diri. Ayahnya mengatakan bahwa ia hanya bermaksud untuk mengujinya, dan mencari tahu apakah ia masih suci. Gadis itu menyatakan bahwa ia masih suci dan ia tidak pernah menatap pria (lain) dengan tatapan penuh cinta. Setelah menenangkan putrinya yang ketakutan, ia pun membawanya pulang ke rumah, dan menyelenggarakan jamuan makan serta menikahkan putrinya. Kemudian ia merasa ingin pergi untuk memberi hormat pada Sang Guru; ia membawa wewangian dan untaian bunga di tangan dan pergi ke Jetawana. Setelah selesai memberikan penghormatan dan persembahan, ia mengambil tempat duduk di dekat Sang Guru, yang memperhatikan bahwa telah lama ia absen sejak kedatangannya yang terakhir. Lelaki itu kemudian menceritakan seluruh kejadian itu kepada Sang Bhagawan.

“Ia selalu merupakan gadis yang baik,” kata Sang Guru. “Engkau mengujinya di saat ini sama seperti yang engkau lakukan di kehidupan yang lampau.” Kemudian, atas permohonan penjual sayuran itu, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares [412], Bodhisatta terlahir sebagai dewa pohon di sebuah hutan. Seorang upasaka penjual sayuran di Benares meragukan putrinya dengan cara yang sama, dan semuanya terjadi sama seperti pada cerita pembuka di atas. Saat ayahnya menggenggam tangannya, gadis yang menangis itu mengulangi syair berikut ini: —

Ia yang seharusnya memberikan perlindungan bagiku,
ayahku, melakukan perbuatan salah ini kepadaku;
Di dalam hutan lebat ini saya sedih dan menangis,
pelindungku ternyata menjadi musuhku sendiri.

Kemudian ayahnya menenangkan rasa takutnya, dan bertanya apakah ia masih suci. Setelah ia mengatakan ia masih suci, kemudian ayahnya membawanya pulang ke rumah dan mengadakan jamuan makan untuk menikahkan gadis tersebut.

____________________

Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru membabarkan Empat Kebenaran Mulia dan pada akhir khotbah, penjual sayuran itu mencapai tingkat kesucian Sotāpanna. Kemudian Beliau menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Ayah dan anak di masa ini merupakan ayah dan anak dalam kisah tersebut, dan saya adalah dewa pohon yang menjadi saksi kejadian tersebut.”

Asatarupa Jataka

ASĀTARŪPA-JĀTAKA


“Dalam samaran kegembiraan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Kuṇḍadhānavana dekat Kota Kuṇḍiya mengenai Suppavāsā, seorang upasika yang merupakan putri dari Raja Koliya. Pada saat itu, ia mengandung seorang anak selama tujuh tahun dalam kandungannya, selama tujuh hari waktu persalinannya disiksa oleh rasa sakit akan melahirkan, penderitaannya sangat memilukan hati. Diluar penderitaannya, ia berpikir sebagai berikut, “Bhagawan, Yang Tercerahkan Sempurna, membabarkan Dhamma sehingga akhirnya penderitaan ini mungkin akan terhenti; Kebajikan adalah sifat utama Sang Bhagawan yang dijalankan-Nya, sehingga akhirnya penderitaan ini mungkin dapat berhenti; Terberkahi adalah nibbana, di saat penderitaan seperti ini bisa terhenti.” Ketiga pemikiran ini merupakan penghiburan baginya dalam kesakitannya. Dan ia mengirim suaminya menemui Sang Buddha untuk menyampaikan keadaannya dan untuk menyampaikan sebuah salam darinya.

Pesannya disampaikan kepada Sang Bhagawan, yang berkata, [408] “Semoga Suppavāsā, putri Raja Koliya, menjadi sehat dan kuat kembali, dan melahirkan seorang bayi yang sehat.” Dengan kata-kata dari Sang Bhagawan, Suppavāsā, putri Raja Koliya, menjadi sehat dan kuat, dan melahirkan seorang bayi yang sehat. Saat kembali, suaminya mendapatkan istrinya telah melahirkan dengan selamat, suaminya menjadi kagum dengan kekuatan yang agung dari Sang Buddha. Setelah anaknya lahir, Suppavāsā sangat ingin mempersembahkan hadiah selama tujuh hari kepada para bhikkhu dengan Buddha sebagai guru mereka, dan mengirim suaminya lagi untuk mengundang mereka. Pada waktu yang sama, Sanggha dengan Buddha sebagai pemimpin mereka telah menerima undangan dari seorang umat awam yang menyokong Thera Moggallāna Yang Agung; namun, Sang Guru, yang ingin memenuhi permintaan Suppavāsā dalam memberikan dana (makanan), mengutus sang thera untuk menjelaskan masalah tersebut, dan bersama Sanggha menerima undangan makan dari Suppavāsā selama tujuh hari. Pada hari ketujuh ia mendandani bayi kecilnya, yang bernama Sīvali, dan membuat putranya membungkuk di depan Buddha dan Sanggha. Saat bayi itu dibawa untuk melakukan hal yang sama pada Sāriputta, thera itu dengan penuh keramahan menyapa bayi tersebut, berkata, “Baiklah, Sīvali, apakah engkau sehat-sehat saja?” “Bagaimana mungkin, Bhante?” jawab bayi itu. “Selama tujuh tahun yang panjang saya harus bermandikan darah.”

Dengan gembira Suppavāsā berseru, “Anakku, yang hanya berusia tujuh hari, berbincang-bincang mengenai keyakinan dengan Thera Sāriputta, sang Panglima Dhamma!”

“Maukah engkau memiliki anak lagi yang seperti ini?” tanya Sang Guru. “Mau, Bhante,” jawab Suppavāsā, “tujuh anak lagi, jika saya bisa mendapatkan anak yang seperti ini.” Dengan kata-kata yang khidmat Sang Guru mengucapkan terima kasih atas keramahan Suppavāsā dan pergi dari sana.

Pada usia tujuh tahun Sīvali menyerahkan diri pada ajaran Buddha, dan meninggalkan keduniawian untuk bergabung dalam Sanggha; pada usia dua puluh tahun ia telah menjadi bhikkhu. Ia penuh dengan kebaikan dan mendapatkan berkah kebaikan berupa tingkat kesucian Arahat, bumi bersorak dalam kebahagiaan.

Suatu hari, para bhikkhu berkumpul di Balai Kebenaran membicarakan hal tersebut, berkata, “Thera Sīvali, yang sekarang begitu bersinar, adalah seorang anak yang sering didoakan; selama tujuh tahun ia berada dalam kandungan dan proses kelahirannya memakan waktu tujuh hari. Betapa hebatnya rasa sakit yang dialami oleh ibu dan anak itu! Karena melakukan apakah mereka mengalami penderitaan seperti itu?”

Masuk ke dalam balai itu, Sang Guru menanyakan topik pembicaraan mereka. “Para Bhikkhu,” kata Beliau, “Sīvali yang penuh kebaikan [409] dikandung selama tujuh tahun dan proses kelahirannya berlangsung selama tujuh hari lamanya adalah karena perbuatannya sendiri di kehidupan yang lampau.

Demikian juga dengan Suppavāsā yang mengandung selama tujuh tahun dan melahirkan setelah tujuh hari adalah akibat perbuatannya sendiri di kehidupan yang lampau.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta adalah putra mahkota, ia tumbuh dewasa dan mendapat pendidikan di Takkasilā, dan setelah ayahnya meninggal ia menjadi seorang raja dan memerintah dengan penuh keadilan. Pada masa itu, Raja Kosala datang dengan kekuatan yang hebat untuk berperang dengan Benares, dan membunuh raja serta mengambil Ratu Benares menjadi istrinya.

Saat raja dibunuh, putranya melarikan diri melalui selokan. Setelah itu ia mengumpulkan kekuatan yang besar dan datang ke Benares. Berkemah di dekat sana, ia mengirim pesan kepada raja untuk menyerahkan kerajaannya atau berperang. Raja mengirim jawaban bahwa ia memilih berperang. Namun ibu pangeran muda ini, mengetahui hal tersebut, mengirim pesan kepada anaknya, yang mengatakan, “Tidak perlu melakukan peperangan. Biarlah setiap jalan masuk ke kota di setiap sisi diberi pengawasan dan diberi penghalang, sehingga mereka kehabisan kayu bakar, air dan makanan, membuat orang-orang lemas. Setelah itu kota akan jatuh ke tanganmu tanpa perlu melakukan peperangan.” Mengikuti nasihat ibunya, selama tujuh hari pangeran tersebut mengawasi kota dengan ketat melalui blokade, hingga akhirnya pada hari ketujuh para penduduk memenggal kepala raja dan membawakannya untuk pangeran tersebut. Kemudian ia memasuki kota dan menjadikan dirinya sebagai raja. Setelah meninggal dunia ia terlahir kembali ke alam yang sesuai dengan hasil perbuatannya.

____________________

Hasil dan akibat tindakannya memblokir kota selama tujuh hari adalah selama tujuh tahun ia berada dalam kandungan, dan proses kelahirannya berlangsung selama tujuh hari. Namun, karena ia bersujud di kaki Buddha Padumuttara dan memberikan sejumlah persembahan (dana) dengan tekad untuk menjadi seorang Arahat, ia pun mendapatkan berkah mencapai tingkat kesucian Arahat; dan karena di masa Buddha Vipassī, ia memberikan sejumlah persembahan dengan tekad yang sama, bersama para penduduk kota, mempersembahkan dana yang amat bernilai;— [410] karenanya, atas kebaikannya, ia mendapatkan berkah mencapai tingkat kesucian Arahat. Dan karena Suppavāsā yang mengirim pesan meminta anaknya mengambil alih kota melalui blokade, mendapatkan balasan dengan mengandung selama tujuh tahun dan melahirkan setelah tujuh hari.

Uraian-Nya berakhir, Sang Guru, sebagai seorang Buddha, mengulangi syair berikut ini:

Dalam samaran kegembiraan dan kesenangan,
penderitaan muncul dan menggoyahkan batin untuk
menguasai diri orang-orang yang lengah.

Setelah memberikan pelajaran ini, Sang Guru menjelaskan tentang kelahiran tersebut dengan berkata, “Sīvali adalah pangeran yang waktu itu memblokir kota dan menjadi raja; Suppavāsā adalah ibunya, dan Saya adalah ayahnya, Raja Benares.”

Kutavanija Jataka

KŪṬAVĀṆIJA-JĀTAKA


[404] “Paṇḍita benar, Atipaṇḍita yang salah,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang pedagang penipu. Terdapat dua orang pedagang yang bekerja sama di Sawatthi, diceritakan kepada kami, mereka melakukan perjalanan dengan membawa barang dagangan dan pulang dengan membawa hasil penjualan. Pedagang penipu itu berpikir, “Rekan saya telah makan dengan buruk dan tinggal dengan kondisi yang tidak nyaman beberapa hari yang lalu, sehingga ia akan mati karena masalah pencernaan, sesampainya di rumahnya kembali ia dapat menyenangkan diri sepuas hati dengan berbagai makanan pilihan. Rencana saya adalah membagi hasil penjualan menjadi tiga bagian, memberi satu bagian untuk anak yatimnya, dan dua bagian lainnya untuk diriku sendiri.” Dengan alasan itu ia membuat alasan untuk menunda pembagian keuntungan.

Melihat kegagalannya mendesak pembagian tersebut, rekan yang jujur itu menemui Sang Guru di wihara, memberikan penghormatan dan disambut dengan ramah. “Sudah sangat lama,” kata Sang Buddha, “sejak terakhir kali engkau mengunjungi saya.” Dan saudagar tersebut menceritakan kepada Sang Guru apa yang menimpa dirinya.

“Ini bukan pertama kalinya, Upasaka,” kata Sang Guru, “orang ini menipu para pedagang; ia juga melakukan penipuan di kehidupan yang lampau. Seperti ia mencoba menipumu sekarang, ia juga mencoba menipu ia yang bijaksana dan penuh kebaikan di masa itu.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, atas permohonan pedagang jujur tersebut, Sang Guru menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir dalam sebuah keluarga pedagang, dan pada hari pemberian nama, ia diberi nama Paṇḍita (Bijak). Setelah dewasa, ia menjalin kerjasama dengan saudagar lainnya yang bernama Atipaṇḍita (Terlalu Bijak), dan berdagang bersamanya. Mereka berdua membawa lima ratus buah kereta berisikan barang dagangan dari Benares menuju daerah pedesaan. Setelah menjual barang-barang tersebut, mereka kembali dengan membawa hasil penjualan itu. Saat waktu pembagian tiba, Atipaṇḍita berkata, “Saya harus mendapatkan dua bagian.” “Mengapa demikian?” tanya Paṇḍita. “Karena kamu hanya ‘Bijaksana’, sementara saya ‘Terlalu Bijak’. Karena itu ‘Bijak’ hanya mendapat satu bagian, ‘Terlalu Bijak’ mendapat dua bagian.” “Namun kita berdua mempunyai bagian yang sama dalam persediaan barang dagangan dan juga dalam sapi serta kereta. Mengapa engkau harus mendapat dua bagian ?” “Karena saya Terlalu Bijak.” Demikianlah mereka saling berbalas kata hingga akhirnya mempertengkarkan hal tersebut.

“Ah!” pikir Atipaṇḍita, “saya ada rencana.” Ia membuat ayahnya bersembunyi [405] dalam sebuah lubang di pohon, memerintahkan agar orang tua itu berkata, pada saat mereka berdua datang, “Atipaṇḍita harus mendapat dua bagian.” Setelah mengatur hal itu, ia mencari Bodhisatta dan mengusulkan padanya untuk menyerahkan tuntutan dua bagian itu kepada dewa pohon yang cakap dalam mengambil keputusan. Ia membuat permohonan dengan kata-kata berikut : “Dewa Pohon, buatlah keputusan untuk masalah kami!” Saat itu, sang ayah yang bersembunyi di dalam pohon, mengubah suaranya, meminta mereka mengatakan permasalahan mereka. Penipu itu berkata, “Tuan, di sini berdiri Paṇḍita, dan di sini berdiri saya, Atipaṇḍita. Kami adalah rekan usaha. Beri tahukanlah bagian yang pantas diterima masing-masing dari kami.”

“Paṇḍita menerima satu bagian dan Atipaṇḍita menerima dua bagian,” jawabnya.

Mendengar keputusan ini, Bodhisatta memutuskan untuk melihat apakah itu benar-benar dewa pohon atau bukan. Ia mengisi lubang pohon itu dengan jerami dan menyalakan api. Dan ayah Atipaṇḍita yang setengah terbakar itu memanjat keluar dengan mencengkeram sebuah cabang pohon. Jatuh ke tanah, ia mengucapkan syair berikut ini : —

Paṇḍita benar, Atipaṇḍita yang salah;
Dikarenakan Atipaṇḍita, saya terbakar parah
dalam kobaran api.

Kemudian kedua orang itu membagi dua sama rata hasil penjualan mereka, dan masing-masing mendapatkan satu bagian. Setelah meninggal dunia mereka terlahir kembali di alam yang sesuai dengan hasil perbuatan mereka.

____________________

“Demikianlah telah engkau lihat,” kata Sang Guru, “bahwa rekanmu adalah seorang penipu besar di kehidupan yang lampau, sama seperti saat ini.” Setelah mengakhiri cerita tersebut, Beliau menjelaskan tentang kelahiran tersebut dengan berkata, “Pedagang penipu di kelahiran ini juga merupakan pedagang penipu dalam cerita di atas, dan saya adalah pedagang jujur yang bernama Paṇḍita.”

Pohon Masalah

Seorang teknisi komputer yang saya pesan untuk memperbaiki PC di rumah datang terlambat. Katanya, di tengah jalan ban mobilnya kempes. Ketika sedang memperbaiki komputer, listrik PLN mati ada pemadaman sementara. Akibat berbagai masalah tadi, ia kehilangan waktu kerjanya beberapa jam. Rupanya penderitaannya tak hanya berhenti di sini. Persis saat mau pulang, mendadak mesin mobilnya ogah distart dan mogok.

Agar tidak kemalaman, saya mengantarkannya pulang. Dalam perjalanan ia tampak termenung sedih atas kesialan yang bertubi-tubi menimpanya hari itu. Sesampainya di depan rumahnya, tiba-tiba ia berhenti sebentar di depan sebuah pohon kecil yang tumbuh di halaman depan. Ia menyentuh ujung- ujung cabang pohon itu dengan kedua tangannya. Setelah itu, raut mukanya menampakkan perubahan besar. Begitu pintu rumah terbuka, wajah yang semual lesu kusam itu mendadak penuh senyuman.

Dengan riang dan hangat ia memeluk kedua anaknya serta mencium sang istri yang menyambutnya. Karena penasaran, sebelum berpamitan saya bertanya apa yang dia lakukan dengan pohon tersebut? “Oh, itu adalah pohon masalah saya,” jawabnya. Menyadari lawan bicaranya kebingungan, pria ini melanjutkan bicara. “Saya sadar, ada banyak persoalan muncul dalam pekerjaan dan dalam kehidupan pribadi ini. Namun, yang pasti segala permasalahan itu bukan milik orang rumah, baik anak, istri maupun orang-orang yang saya cintai.

Itulah sebabnya, sore hari setiap pulang dari kantor, sebelum masuk rumah saya selalu menaruh semua masalah atau problem pekerjaan di pohon ini. Keesokan harinya, saya ambil untuk di bawa ke kantor lagi.” “Anehnya”, lanjutnya sambil tersenyum, “di pagi hari ketika saya ambil lagi masalah-masalah tersebut dari pohon, rasanya tidak lagi seberat ketika saya taruh kemarin sore, atau bahkan sudah hilang.” 

Tidak ada Ajahn Chah | Kelahiran dan Kematian

Kumpulan Kata2 Bijak Y.A. Ajahn Chah mengenai Kelahiran dan Kematian:

1. Latihan yang baik adalah : bertanya kepada diri Anda sendiri dengan sungguh-sungguh, “Mengapa saya dilahirkan?” Tanyakan diri Anda sendiri dengan pertanyaan ini pada pagi hari,siang hari, dan malam hari....... setiap hari.



2. Kelahiran dan kematian kita adalah satu hal. Anda tidak bisa mendapatkan yang satu tanpa yang lainnya. Terlihat agak lucu; bagaimana pada saat ada kematian, orang-orang menangis dan sedih; sedangkan pada saat ada kelahiran, orang-orang gembira dan senang. Itu hanyalah khayalan. Saya rasa jika Anda benar-benar ingin menangis, lebih baik melakukannya pada saat seseorang dilahirkan. Menangislah pada awalnya, karena bila tidak ada kelahiran, maka tidak akan ada kematian. Apakah Anda bisa mengerti hal ini?

3. Anda akan berpikir bahwa : orang mengerti apa yg akan terjadi jika hidup di dalam kandungan seseorang? Betapa tidak nyaman! Bayangkan saja, bila diam di dalam gubuk hanya sehari saja, rasanya sudah sulit. Kunci semua pintu dan jendela, Anda sudah merasa tertekan. Jadi bagaimana rasanya tinggal di dalam kandungan seseorang, selama sembilan bulan? Tapi Anda tetap mau dilahirkan kembali! Anda tahu ketidak-nyamannya dalam kandungan, dan Anda masih mau menempelkan kepala di sana, untuk menaruh leher Anda di dalam jerat itu sekali lagi.

4. Mengapa kita dilahirkan? Kita dilahirkan agar kita tidak akan dilahirkan kembali.

5. Ketika seseorang tidak mengerti tentang kematian, hidup dapat menjadi sangat membingungkan.

6. Sang Buddha memberitahukan muridnya, Ananda, untuk melihat ketidak-kekalan, untuk melihat kematian dalam setiap nafas. Kita harus memahami kematian; kita harus mati agar dapat hidup. Apa artinya ini? Mati adalah jalan menuju akhir dari semua keraguan, semua pertanyaan kita, dan ada di sini dengan kenyataan saat ini. Anda tidak akan pernah mati besok. Anda harus mati sekarang. Dapatkah Anda melakukannya? Bila Anda dapat melakukannya, Anda akan tahu kedamaian tanpa pertanyaan lagi.


7. Kematian itu sedekat nafas kita.

8. Kalau Anda telah terlatih dengan benar, Anda tidak akan merasa ketakutan ketika jatuh sakit, juga tidak sedih jika seseorang meninggal. Ketika Anda pergi ke rumah sakit untuk menjalani perawatan, tanamkan di dalam pikiran jika Anda menjadi lebih sehat, itu bagus; dan jika Anda meninggal, itu juga bagus. Saya menjamin Anda, bahwa bila dokter berkata kepada saya, bahwa saya mengidap kanker dan akan mati beberapa bulan lagi, saya akan mengingatkan dokter itu, “Hati-hati, karena kematian juga akan datang menjemputmu. Ini hanya masalah siapa yang pergi duluan dan siapa yang pergi belakangan.” Dokter tidak dapat menyembuhkan kematian dan tidak dapat mencegah kematian. Hanya Buddha yang dapat disebut dokter, jadi kenapa tidak pergi dan menggunakan obat dari Buddha?

9. Jika Anda takut sakit, jika Anda takut mati, sebaiknya Anda merenungkan : dari mana mereka berasal. Dari mana mereka datang? Mereka muncul dari kelahiran. Jadi jangan sedih bila seseorang meninggal. Itu adalah hal yang alami, dan penderitaanya dalam kehidupan ini berakhir. Jika Anda mau bersedih, bersedihlah pada saat orang dilahirkan: “Oh tidak, mereka datang lagi. Mereka akan menderita dan mati lagi!”

10. “Dia yang mengetahui” dengan jelas tahu bahwa semua keadaan yang berkondisi adalah tidak kekal. Jadi “Dia yang mengetahui” tidak akan menjadi senang atau sedih, karena tidak mengikuti perubahan kondisi. Untuk menjadi senang, adalah untuk dilahirkan; untuk menjadi kesal, adalah untuk mati. Setelah mati, kita lahir kembali; setelah dilahirkan, kita mati lagi. Kelahiran dan kematian dari satu momen ke momen berikutnya adalah putaran roda samsara yang tidak pernah berakhir.

Kualitas diri yang unik

Kualitas diri yang unik


Di sebuah restoran terdengar percakapan antara kopi, bir, air jernih dan teh.

Secangkir kopi berkata : “Janganlah kamu meremehkan secangkir kopi kecil seperti saya. Hargaku cukup mahal. Orang yang meminumku mendapatkan hasil yang menakjubkan, pikiran mereka menjadi enteng dan lelahpun akan hilang sehingga tidak mengantuk lagi.

Bir menjawab : “Mana bisa kopi dibandingkan dengan air seperti saya. Bir adalah minuman terbaik di dunia. Setelah minum bir orang akan menjadi bersahabat dan romantis. Selain itu bir lebih mahal, mungkin delapan kali lipat dari harga kopi, belum termasuk tip lho….”

Mendengar omongan bir, kopi kembali menjawab : “Oke walaupun saya bukan yang terbaik, saya lebih baik dari yang lain, paling tidak saya harus bertanya kepada segelas air jernih untuk lebih meyakinkan. Ia hanya minuman gratis di restoran ini. Ia tidak berharga sama sekali. Ha….ha….ha menggelikan.”

Mendengar perkataan kopi, air jernih menjawab : “Jangan memandang rendah saya. Walaupun saya tidak lebih berharga daripada kalian di restoran ini, di gurun pasir saya adalah minuman yang paling menyenangkan.”

Mendengar percakapan kopi, bir dan air jernih, teh berkata : “Air jernih masuk akal. Ijinkan saya Teh Spesial memberi penjelasan. Di dunia ini tidak ada perbedaan nyata atas segala sesuatu yang berharga. Segalanya berharga dan indah apa adanya. Dalam batas batas nilai uang, teh yang bagus seperti aku berharga lima puluh ribu rupiah per ons. Saya tidak lebih murah dari kalian berdua. Banyak orang tidak perduli pada kopi dan bir tapi mempunyai minat khusus padaku. Dalam menulis dan berfikir, kopi adalah teman yang baik. Saat bergaul dan perayaan, bir yang baik akan terasa begitu menyenangkan. Dan untuk menghilangkan haus serta menambah cairan tubuh, air jernih adalah yang penting sebagai penyelamat hidup. Oleh karena itu, segala sesuatu di dunia ini memiliki kualitas unik masing masing. Tidak perlu membandingkan diri kita dengan yang lain. Bila kita teh, perankan sebagai teh dengan sebaik baiknya. Bila kita kopi, perankan sebagai kopi dengan sebaik baiknya. Dan jika kita air jernih, perankan sebagai air jernih dengan sebaik baiknya.”

Begitu pula kita sebagai manusia. Hidup dalam perbandingan akan terasa melelahkan. Kita bukan dia. Sebaliknya, dia juga bukan diri kita. Lebih baik, kita melakukan yang terbaik dengan apapun yang kita miliki saat ini. Apabila masing-masing orang mampu melakukan yang terbaik secara positif, maka kehidupan bermasyarakat akan menjadi bahagia. Penuh damai dan ketenangan tanpa adanya permusuhan yang mungkin timbul dari perbandingan. Tidak ada lagi orang yang merasa diri sendiri paling hebat, paling kuat, paling bijaksana dan paling benar di seluruh dunia. Semuanya sama dan setara dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Resep Rahasia Orang Buta

Resep Rahasia Orang Buta

Ada dua orang buta yang seorang yang sudah tua dan yang seorang masih muda, mereka adalah guru dan murid, mereka mencari nafkah dengan bermain kecapi.

Pada suatu hari orang buta yang tua ini sudah tidak dapat bertahan lagi, dia jatuh sakit, dia tahu umurnya sudah tidak panjang lagi, lalu dia memanggil muridnya ke samping tempat tidurnya.

Tangannya yang gemetaran menggengam tangan muridnya dengan susah payah berkata,” Anakku, didalam sini ada sebuah resep rahasia, resep rahasia ini akan membuat engkau melihat dunia terang lagi, saya menyembunyikannya didalam kecapi ini, tetapi engkau harus ingat, engkau harus bermain kecapi sampai seribu senar kecapi ini terputus, baru boleh mengeluarkan resep rahasia ini, jika tidak engkau tidak akan melihat cahaya terang lagi.”

Si buta kecil ini sambil menghapus air matanya berjanji kepada gurunya, gurunya dengan tersenyum damai pergi meninggalkan dunia ini.

Sehari demi sehari berlalu, setahun demi setahun berlalu, si buta kecil selalu ingat kepada pesan gurunya, selembar demi selembar tari senar putus disimpannya baik-baik, selalu menghitungnya didalam hati. Ketika dia bermain sampai tari senar yang ke 1000 terputus, pemuda kecil buta yang lemah yang dulu sekarang sudah menjadi si buta tua renta.

Dia tidak dapat mengekang rasa bahagia yang ada didalam hatinya, dengan tangan gemetar dia membuka kecapinya, mengeluarkan resep rahasia yang ada didalam kecapi.

Kemudian, orang lain memberitahu kepadanya bahwa itu adalah sepotong kertas kosong, diatas kertas itu tidak tertulis sepatah katapun, air matanya menetes diatas kertas, dia tertawa.

Apakah si buta tua membohongi si buta kecil?

Si buta tua yang dahulunya adalah si buta kecil, memegang kertas putih yang tidak ada tulisan sama sekali , lalu kenapa dia malahan bisa tertawa?.

Pada saat dia membuka resep rahasia itu, seketika itu juga dia menjadi mengerti makna yang terkandung didalam hati gurunya, walaupun hanya sepotong kertas putih, tetapi itu merupakan sebuah resep rahasia tanpa tulisan, resep rahasia yang tidak akan ada orang tahu. Hanya dia sendiri yang dari kecil menemani gurunya bermain kecapi yang mengerti makna yang terkandung dalam resep rahasia yang tanpa tulisan ini.

Resep rahasia itu adalah pancaran sinar terang, yang ketika dia berada dalam kesusahan menghadapi perjalanan hidup ini gurunya menyalakan sinar terang ini untuk menemani menjalani perjalanan hidup yang susah ini, jika tidak ada sinar terang ini, dia mungkin sudah ditelan oleh kegelapan hidup ini, mungkin dari dahulu dia sudah tersungkur jatuh oleh kesusahan hidup ini.

Karena harapan dari seberkas terang ini, dia dapat bermain kecapi sampai seribu senarnya terputus, karena dia ingin bisa melihat cahaya terang lagi, dengan teguh tanpa goyah mempercayai pesan gurunya. Kegelapan bukan selamanya terjadi, asalkan tidak mudah melepaskan keyakinan, setelah semua kegelapan ini berlalu, akan ada cahaya yang tidak terbatas.

Setelah menaklukkan berbagai rintangan dan kesusahan, kepercayaan yang teguh ini akhirnya membuat hatinya bisa melihat cahaya terang yang sebenarnya, Apakah akhirnya dapat melihat sinar terang didunia ini hal yang perlu dibanggakan? Manusia memiliki sepasang mata yang terang, tetapi memiliki sisi hati yang gelap, apakah ini berguna?