Tampilkan postingan dengan label Cerita Moral. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Moral. Tampilkan semua postingan

Pohon Masalah

Seorang teknisi komputer yang saya pesan untuk memperbaiki PC di rumah datang terlambat. Katanya, di tengah jalan ban mobilnya kempes. Ketika sedang memperbaiki komputer, listrik PLN mati ada pemadaman sementara. Akibat berbagai masalah tadi, ia kehilangan waktu kerjanya beberapa jam. Rupanya penderitaannya tak hanya berhenti di sini. Persis saat mau pulang, mendadak mesin mobilnya ogah distart dan mogok.

Agar tidak kemalaman, saya mengantarkannya pulang. Dalam perjalanan ia tampak termenung sedih atas kesialan yang bertubi-tubi menimpanya hari itu. Sesampainya di depan rumahnya, tiba-tiba ia berhenti sebentar di depan sebuah pohon kecil yang tumbuh di halaman depan. Ia menyentuh ujung- ujung cabang pohon itu dengan kedua tangannya. Setelah itu, raut mukanya menampakkan perubahan besar. Begitu pintu rumah terbuka, wajah yang semual lesu kusam itu mendadak penuh senyuman.

Dengan riang dan hangat ia memeluk kedua anaknya serta mencium sang istri yang menyambutnya. Karena penasaran, sebelum berpamitan saya bertanya apa yang dia lakukan dengan pohon tersebut? “Oh, itu adalah pohon masalah saya,” jawabnya. Menyadari lawan bicaranya kebingungan, pria ini melanjutkan bicara. “Saya sadar, ada banyak persoalan muncul dalam pekerjaan dan dalam kehidupan pribadi ini. Namun, yang pasti segala permasalahan itu bukan milik orang rumah, baik anak, istri maupun orang-orang yang saya cintai.

Itulah sebabnya, sore hari setiap pulang dari kantor, sebelum masuk rumah saya selalu menaruh semua masalah atau problem pekerjaan di pohon ini. Keesokan harinya, saya ambil untuk di bawa ke kantor lagi.” “Anehnya”, lanjutnya sambil tersenyum, “di pagi hari ketika saya ambil lagi masalah-masalah tersebut dari pohon, rasanya tidak lagi seberat ketika saya taruh kemarin sore, atau bahkan sudah hilang.” 

Kualitas diri yang unik

Kualitas diri yang unik


Di sebuah restoran terdengar percakapan antara kopi, bir, air jernih dan teh.

Secangkir kopi berkata : “Janganlah kamu meremehkan secangkir kopi kecil seperti saya. Hargaku cukup mahal. Orang yang meminumku mendapatkan hasil yang menakjubkan, pikiran mereka menjadi enteng dan lelahpun akan hilang sehingga tidak mengantuk lagi.

Bir menjawab : “Mana bisa kopi dibandingkan dengan air seperti saya. Bir adalah minuman terbaik di dunia. Setelah minum bir orang akan menjadi bersahabat dan romantis. Selain itu bir lebih mahal, mungkin delapan kali lipat dari harga kopi, belum termasuk tip lho….”

Mendengar omongan bir, kopi kembali menjawab : “Oke walaupun saya bukan yang terbaik, saya lebih baik dari yang lain, paling tidak saya harus bertanya kepada segelas air jernih untuk lebih meyakinkan. Ia hanya minuman gratis di restoran ini. Ia tidak berharga sama sekali. Ha….ha….ha menggelikan.”

Mendengar perkataan kopi, air jernih menjawab : “Jangan memandang rendah saya. Walaupun saya tidak lebih berharga daripada kalian di restoran ini, di gurun pasir saya adalah minuman yang paling menyenangkan.”

Mendengar percakapan kopi, bir dan air jernih, teh berkata : “Air jernih masuk akal. Ijinkan saya Teh Spesial memberi penjelasan. Di dunia ini tidak ada perbedaan nyata atas segala sesuatu yang berharga. Segalanya berharga dan indah apa adanya. Dalam batas batas nilai uang, teh yang bagus seperti aku berharga lima puluh ribu rupiah per ons. Saya tidak lebih murah dari kalian berdua. Banyak orang tidak perduli pada kopi dan bir tapi mempunyai minat khusus padaku. Dalam menulis dan berfikir, kopi adalah teman yang baik. Saat bergaul dan perayaan, bir yang baik akan terasa begitu menyenangkan. Dan untuk menghilangkan haus serta menambah cairan tubuh, air jernih adalah yang penting sebagai penyelamat hidup. Oleh karena itu, segala sesuatu di dunia ini memiliki kualitas unik masing masing. Tidak perlu membandingkan diri kita dengan yang lain. Bila kita teh, perankan sebagai teh dengan sebaik baiknya. Bila kita kopi, perankan sebagai kopi dengan sebaik baiknya. Dan jika kita air jernih, perankan sebagai air jernih dengan sebaik baiknya.”

Begitu pula kita sebagai manusia. Hidup dalam perbandingan akan terasa melelahkan. Kita bukan dia. Sebaliknya, dia juga bukan diri kita. Lebih baik, kita melakukan yang terbaik dengan apapun yang kita miliki saat ini. Apabila masing-masing orang mampu melakukan yang terbaik secara positif, maka kehidupan bermasyarakat akan menjadi bahagia. Penuh damai dan ketenangan tanpa adanya permusuhan yang mungkin timbul dari perbandingan. Tidak ada lagi orang yang merasa diri sendiri paling hebat, paling kuat, paling bijaksana dan paling benar di seluruh dunia. Semuanya sama dan setara dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Resep Rahasia Orang Buta

Resep Rahasia Orang Buta

Ada dua orang buta yang seorang yang sudah tua dan yang seorang masih muda, mereka adalah guru dan murid, mereka mencari nafkah dengan bermain kecapi.

Pada suatu hari orang buta yang tua ini sudah tidak dapat bertahan lagi, dia jatuh sakit, dia tahu umurnya sudah tidak panjang lagi, lalu dia memanggil muridnya ke samping tempat tidurnya.

Tangannya yang gemetaran menggengam tangan muridnya dengan susah payah berkata,” Anakku, didalam sini ada sebuah resep rahasia, resep rahasia ini akan membuat engkau melihat dunia terang lagi, saya menyembunyikannya didalam kecapi ini, tetapi engkau harus ingat, engkau harus bermain kecapi sampai seribu senar kecapi ini terputus, baru boleh mengeluarkan resep rahasia ini, jika tidak engkau tidak akan melihat cahaya terang lagi.”

Si buta kecil ini sambil menghapus air matanya berjanji kepada gurunya, gurunya dengan tersenyum damai pergi meninggalkan dunia ini.

Sehari demi sehari berlalu, setahun demi setahun berlalu, si buta kecil selalu ingat kepada pesan gurunya, selembar demi selembar tari senar putus disimpannya baik-baik, selalu menghitungnya didalam hati. Ketika dia bermain sampai tari senar yang ke 1000 terputus, pemuda kecil buta yang lemah yang dulu sekarang sudah menjadi si buta tua renta.

Dia tidak dapat mengekang rasa bahagia yang ada didalam hatinya, dengan tangan gemetar dia membuka kecapinya, mengeluarkan resep rahasia yang ada didalam kecapi.

Kemudian, orang lain memberitahu kepadanya bahwa itu adalah sepotong kertas kosong, diatas kertas itu tidak tertulis sepatah katapun, air matanya menetes diatas kertas, dia tertawa.

Apakah si buta tua membohongi si buta kecil?

Si buta tua yang dahulunya adalah si buta kecil, memegang kertas putih yang tidak ada tulisan sama sekali , lalu kenapa dia malahan bisa tertawa?.

Pada saat dia membuka resep rahasia itu, seketika itu juga dia menjadi mengerti makna yang terkandung didalam hati gurunya, walaupun hanya sepotong kertas putih, tetapi itu merupakan sebuah resep rahasia tanpa tulisan, resep rahasia yang tidak akan ada orang tahu. Hanya dia sendiri yang dari kecil menemani gurunya bermain kecapi yang mengerti makna yang terkandung dalam resep rahasia yang tanpa tulisan ini.

Resep rahasia itu adalah pancaran sinar terang, yang ketika dia berada dalam kesusahan menghadapi perjalanan hidup ini gurunya menyalakan sinar terang ini untuk menemani menjalani perjalanan hidup yang susah ini, jika tidak ada sinar terang ini, dia mungkin sudah ditelan oleh kegelapan hidup ini, mungkin dari dahulu dia sudah tersungkur jatuh oleh kesusahan hidup ini.

Karena harapan dari seberkas terang ini, dia dapat bermain kecapi sampai seribu senarnya terputus, karena dia ingin bisa melihat cahaya terang lagi, dengan teguh tanpa goyah mempercayai pesan gurunya. Kegelapan bukan selamanya terjadi, asalkan tidak mudah melepaskan keyakinan, setelah semua kegelapan ini berlalu, akan ada cahaya yang tidak terbatas.

Setelah menaklukkan berbagai rintangan dan kesusahan, kepercayaan yang teguh ini akhirnya membuat hatinya bisa melihat cahaya terang yang sebenarnya, Apakah akhirnya dapat melihat sinar terang didunia ini hal yang perlu dibanggakan? Manusia memiliki sepasang mata yang terang, tetapi memiliki sisi hati yang gelap, apakah ini berguna?

Dendam Yang Sirna

Dendam Yang Sirna

Zhing membenci seseorang, dia juga mengatakan kepada anaknya yang berumur 5 tahun, “Seumur hidupmu engkau harus ingat sebuah nama Liang, dia adalah musuh kita berdua.”

Karena Liang, Zhing kehilangan suaminya, anaknya yang berumur 5 tahun kehilangan bapaknya.

Sebenarnya Liang, tidak bersalah, dia adalah petugas pemadam kebakaran tanpa sengaja menyebabkan suami Zhing terbunuh, sehingga dia harus dipenjara.

Liang ketika dibebaskan oleh pengadilan, dirinya berubah total, dia berhenti merokok dan minum minuman keras, lalu Liang datang meminta maaf kepada Zhing, dia berkata ingin membantu menyekolahkan anaknya.

Zhing ketika melihat Liang, seperti gila menarik bajunya dan memukulnya, memakinya sebagai pembunuh, dan akan mendapat karma, dia dan anaknya akan selalu mengingat dendam ini, dan akan membencinya seumur hidup. Akhirnya, menghadapi Zhing yang kehilangan akal sehat Liang tidak bisa berbuat apapun meninggalkan tempat itu.

Zhing setelah kehilangan suaminya ekonominya menjadi susah, akhirnya dia menikah lagi. Tetapi tidak berapa lama kemudian suami keduanya karena kecelakaan kakinya menjadi lumpuh, hanya bisa bekerja sebagai pedagang kaki lima menjual buah-buahan, perekonominya sekali lagi mengalami kesulitan.

Dia sendiri bekerja di sebuah pabrik makanan, setiap hari bekerja 10 jam lebih, hanya mendapat 6 Yuan saja, roda kehidupan yang susah ini membuat dia berputar bagaikan sebuah gasing, perlahan dia mulai melupakan dendamnya.

Zhing harus menyekolahkan anaknya, demi 3 kali makan setiap hari, dia bekerja sangat keras.

Anaknya di sekolah meminta bantuan keringanan, akhirnya mendapat orang tua asuh, setiap bulan mendapat bantuan 100 Yuan, jumlah ini bagi mereka sudah sangat membantu, dari uang bantuan yang ditransfer dapat di lihat bahwa orang yang membantunya berasal dari kota lain.

Ketika sudah 10 kali menerima transfer uangnya, Zhing beranggapan sudah seharusnya dia pergi ke kota mengucapkan terima kasih kepada orang yang membantunya ini, karena dia tidak kenal kepada orang yang membantunya, dia pernah pergi ke kota mengecek orang ini tetapi alamat dan nama orang ini adalah palsu.

Setiap bulan dia menerima uang bantuan ini, berjalan sampai 5 tahun, total keseluruhannya adalah 6.000 Yuan, anaknya sudah tamat SMP, sudah masuk ke SMA.

Kejadian bantuan yang demikian panjang ini menimbulkan minat media, seseorang yang tanpa nama membantu seorang murid terus menerus sampai 5 tahun, ini adalah sebuah berita besar.

Para wartawan di media berusaha mencari alamat orang tersebutnya, akhirnya ketemu, dia adalah seorang wanita paruh baya, seorang wanita penjual sayur yang wajahnya penuh kerut.

Wartawan menanyakan penjual sayur ini kenapa membantu menyekolahkan anak orang lain selama 5 tahun, perempuan ini tidak mau menjawab, atas desakan wartawan akhirnya wanita ini berkata, “ Saya bukan orang tua asuh, saya membayar hutang suami saya, ketika suami saya menjadi pemadam kebakaran tanpa sengaja menyebabkan bapak anak ini meninggal, sejak itu suami saya merasa bersalah, dia lalu sakit keras sebelum dia meninggal berpesan kepada saya membayar hutangnya walau bagaimanapun harus membantu anak ini.”

Wartawan bertanya kepada wanita ini, “Bagaimana engkau setiap bulan mendapatkan 100 Yuan membantu anak ini?” Wanita ini berkata,” Saya belajar menanam sayur, setiap hari membawa sayur yang saya tanam dijual ke kota, setiap bulan pendapatan saya 200 Yuan.”

Akhirnya wanita ini menambahkan, “Jangan biarkan mereka tahu masalah ini, saya ingin menyekolahkan anak ini sampai ke perguruan tinggi.”

Zhing setelah tahu uang bantuan tersebut berasal dari ‘musuhnya’, wanita yang seperti dia sendiri dengan susah payah menanam sayur dan menjualnya. Zhing berkata dia akan menemui wanita ini.

Zhing dan anaknya datang ke desa tempat kenangan pahit itu, sampai di rumah wanita penanam sayur ini, wanita ini melihat kedatangannya segera berlutut memohon maaf. Melihat kejadian ini Zhing dan anaknya segera memapah wanita ini berdiri, wanita ini berkata, “Saya mewakili suami saya meminta maaf kepada kalian berdua.”

Zhing menangis, dia memandang rumah reyot ‘musuhnya’ yang lantai rumahnya terbuat dari tanah liat melihat wajah penuh kerut wanita yang demi menolong anaknya sekolah bekerja susah payah menanam sayur, pada saat itu dia sangat terharu langsung berlutut dan berkata “Kakak”. Zhing memegang kedua tangan wanita yang sangat kasar ini, menangis dengan sedih.

Zhing sudah lama melupakan dendam tersebut, dia menarik tangan wanita ini berkata, “Bagaimana saya bisa membalas budi baikmu?” Zhing menyuruh anaknya berlutut mengetuk kepala ke lantai mengucapkan terima kasih kepada wanita ini. Akhirnya anak Zhing berkata, “Setelah saya tamat, saya akan mencari uang untuk membiayai mama dan tante, kalian jangan khawatir.” Setelah mendengar perkataan ini kedua wanita ini berpelukan sambil menangis dengan gembira.

Hukuman Paling Berat

Hukuman Paling Berat

Ketika tamat kuliah, saya mempunyai seorang teman kuliah yang sangat baik mendapatkan kesempatan kerja di sebuah perusahaan export import yang terkenal. Tak disangka, ayah saya lalu menggunakan hubungan relasi menempatkan saya untuk menggantikan tempat teman baik saya ini sehingga ia tidak bisa bekerja disana.

Disebabkan kehendak ayah yang sangat keras, saya tidak berani menentangnya, juga tak berani mengontak teman baik saya lagi tersebut. Saya percaya dia pasti sangat membenci saya.

Akhirnya saya mendapat kabar, bahwa dia ditempatkan disebuah kota kecil di sebuah perusahaan export import yang lebih kecil, gajinya jauh lebih kecil dari saya, setelah mendengar kabar itu hati saya semakin tidak enak.

Beberapa puluh tahun kemudian saya ditugaskan mengikuti seminar di luar negeri. Tidak disangka teman baik saya juga diundang, malahan kami berdua ditempatkan dalam satu kamar bersama.

Ternyata, dia sama sekali tidak marah atau mendendam, malahan dia menggenggam kedua telapak tangan saya dengan terharu berkata, ”Sudah tidak bertemu beberapa tahun, tidak sangka ya disini bisa bertemu dengan lagi.” Lalu dia mentraktir saya makan malam, sebagai perayaan karena sudah lama tidak bertemu, kami makan sambil mengobrol panjang lebar.

Setelah mengobrol cukup lama, saya sangat kagum kepada sifat pemaafnya yang tulus ikhlas dan sifat terpelajarnya. Malahan saya merasa sangat bersalah dan sangat malu kepada jiwa picik dan pikiran kotor saya sendiri.

Mulai saat itu saya mengerti, hukuman paling berat bukan dengan cacian menghina dan memukul sebagai balas dendam, tetapi adalah sifat pemaaf dan lapang dada yang tidak terbatas yang ditunjukkan seseorang yang pernah kita rugikan.

Apa yang Dilihat di Puncak Gunung

Apa yang Dilihat di Puncak Gunung

Dahulu kala, ditempat yang sangat jauh, ada seorang kepala suku sedang sakit keras. Lalu dia memanggil 3 pemuda gagah dan kuat serta paling berbakat yang ada dikampung itu, berkata kepada mereka, “Saya sudah akan meninggalkan dunia ini, saya menginginkan kalian melakukan hal yang terakhir untuk saya. Kalian bertiga adalah pemuda sehat, bertenaga, dan lebih pintar dari bijaksana dari semua penduduk yang ada dikampung ini. Sekarang, kalian pergilah mendaki gunung yang paling tinggi dan sakral, sebisa mungkin mendaki sampai ke puncak, lalu kalian kembali kesini memberitahu saya apa yang kalian lihat dan dengar?”

Tiga hari kemudian, salah satu dari ke tiga pemuda ini kembali, dengan tersenyum gembira, dan baju yang rapi dia berkata kepada kepala suku,”Kepala suku, saya telah sampai dipuncak gunung, saya melihat bunga-bunga tumbuh dengan indah, sumber air mengalir dengan jernih, suara kicauan burung terdengar dimana-mana, tempat itu lumayan juga!.”

Kepala suku dengan tertawa berkata, “Anakku, jalan yang engkau lalui dahulu juga pernah saya lalui, yang engkau katakan tempat yang penuh bunga dan kicauan suara burung bukan puncak gunung, itu adalah kaki gunung, sekarang engkau pulanglah!”

Sebulan kemudian, pemuda yang kedua juga sudah pulang, dia kelihatan sangat capek, wajahnya sangat kumuh.

“Kepala suku, saya sudah berada dipuncak gunung, saya melihat hutan yang penuh dengan pohon pinus, saya melihat burung elang berterbangan disana, itu adalah sebuah tempat yang bagus.”

“Sungguh sayang! Anakku, itu bukan puncak gunung, tetapi adalah pertengahan gunung. Maaf sudah menyusahkan kamu, sekarang kamu pulanglah!”

Setelah sebulan lagi berlalu, semua orang sudah mulai khawatir kepada pemuda ke tiga yang masih belum pulang, dia melangkah dengan tergopoh-gopoh, bajunya yang sudah compang-camping, bibirnya pecah-pecah, hanya kedua matanya memancarkan sinar yang cemerlang.

“Kepala suku, akhirnya saya sampai ke puncak gunung. Tetapi, harus bagaimanakah saya menceritakan keadaan disana? Disana hanya ada angin kencang yang menyedihkan, langit biru kelihatan diempat penjuru.”

“Apakah engkau disana sungguh tidak melihat apapun? Apakah disana tidak ada seekor kupu-kupupun?”

“Benar, kepala suku, diatas sana sama sekali tidak ada sesuatu. Yang dapat engkau lihat hanyalah dirimu sendiri, seperti “seseorang” yang diletakkan di tepi langit merasa diri sendiri sangat kecil.”

“Anakku, engkau sudah benar-benar sampai ke puncak gunung, menurut adat suku kita, engkau ditakdirkan menjadi penerus pemimpin suku kita, selamat anakku.”

Apa yang dialami oleh pahlawan sejati ini? Yang dia alami adalah sekujur tubuh yang luka, kesepian karena sendirian dalam perjalanan yang panjang, dan juga merasa dirinya semakin lama menjadi semakin kerdil karena berada di alam bebas yang tinggi yang tidak ada sesuatupun.

Jangan Menyentuh Kantong Dendam

Jangan Menyentuh Kantong Dendam

Xiao Lie dan Xiao Wang adalah kolega, juga teman akrab. Pada suatu hari mereka berdua duduk dan ngobrol, tangan Xiao Lie yang iseng mengambil satu lembar kertas sambil mengobrol tangannya mulai mencoret kertas itu dengan iseng.

Setelah itu mereka berdua berpisah, Xiao Wang tanpa sengaja melihat kertas yang di coret oleh Xiao Lie, didalam kertas itu terdapat tulisan namanya, tetapi diatas namanya ada huruf “X”.

Pada saat ini Xiao Wang sangat marah, dia lalu memanggil Xiao Lie dengan marah bertanya kepadanya, “Apa maksudmu di atas nama saya di tulis huruf X, “X” berarti hukuman mati, apakah engkau tidak tahu?”

Xiao Lie tergopoh-gopoh menjawab, “Saya hanya iseng, tanpa sengaja mencoret ini, engkau jangan salah paham.”

Walau bagaimanapun Xiao Lie menjelaskan, Xiao Wang tidak peduli terus saja marah, sampai akhirnya mengatakan memutuskan hubungan dengan Xiao Lie, Xiao Lie tidak bisa berbuat apapun, akhirnya mereka berdua menjadi musuh.

Pada saat ini saya teringat kepada sebuah cerita dari Mesir, di Mesir kuno adalah sebuah legenda, dimana ada seorang pahlawan, pada suatu hari dia sedang dalam perjalanan melewati jalan pegunungan yang berliku-liku, tiba-tiba kakinya tersenggol sebuah kantong yang menghalangi jalannya.

Pahlawan ini lalu menginjak kantong, kantong ini bukan saja tidak pecah malah menjadi semakin besar, semakin lama semakin besar, pahlawan ini menjadi emosi lalu mengambil sebuah kayu yang terdapat dipinggir jalan, memukul kantongan ini, kantongan ini semakin besar akhirnya menutup seluruh jalan, pahlawan yang kecapekan ini tidak bisa berbuat apa-apa, akhir dia terduduk kelelahan.

Pada saat ini dari hutan keluar seorang suci, orang suci ini berkata kepada pahlawan ini, “Temanku, jangan menyentuh kantong itu, lupakan dia, menghindarlah jauh-jauh darinya, dia disebut “kantong dendam” jika engkau tidak menyakitnya, dia akan berubah menjadi kecil seperti semula, tetapi jika engkau menyentuh atau menyakitnya, dia akan semakin besar menghalangi jalanmu, seterusnya dia akan menganggap engkau seperti musuhnya yang tidak akan dilepaskan.”

Cerita ini mengandung maksud yang dalam. Benar saja, manusia bekerja, bergaul dan hidup di masyarakat, tentu saja terkadang terjadi pergesekan, akan timbul salah paham kemudian menjadi dendam.

Tetapi jangan lupa di kantong dendam kita sendiri selalu diisi dengan ketulusan, dada yang lapang, dengan tulus meminta maaf, dengan lapang dada bersalaman tangan, lebih banyak memikirkan orang lain, lupakan rasa dendam, dengan demikian akan menghadapi lebih sedikit rintangan, dan akan mendapat lebih banyak memiliki kesempatan untuk menjadi sukses.

Petani dan Cangkulnya

Petani dan Cangkulnya

Ada seorang petani dengan cangkulnya membajak sawah setiap hari. Selama bertahun-tahun waktunya dihabiskan dengan mencangkul tanah. Dia melakukan pekerjaannya dengan rajin sehingga memperoleh hasil cukup bagus.

Pada suatu hari ada seorang kultivator datang ke rumahnya meminta derma. Kultivator ini kelihatan hidup dengan bebas dan bahagia, maka didalam hati petani ini timbul niat untuk berkultivasi.

Setelah pulang kerumahnya, dia bertekad akan melepaskan segalanya, seperti kultivator ini hidup bebas bahagia. Setelah keluar dari rumahnya, dia merasa kedua tangannya kosong sangat tidak terbiasa.

Setiap hari dia senantiasa membawa cangkulnya keluar bersamanya, sekarang melepaskannya seperti merasa ada sesuatu yang hilang. Akhirnya dia masuk kembali ke dalam rumahnya, mengangkat cangkulnya melihat dari atas sampai kebawah, dari bawah sampai ke atas, cangkul ini dipergunakan setiap hari oleh sebab itu kelihatannya sangat mengkilat. Untuk meninggalkannya sungguh tidak terbiasa, setelah berdiri dia kembali terduduk, dan mengelus-elus cangkulnya itu.

Lalu dia membersihkan cangkul itu sampai bersih mengkilat, membungkusnya dengan kain yang berlapis-lapis, meletakkan disuatu tempat yang istimewa. Pada saat ini dia merasa hatinya agak tenang, dia lalu keluar dari rumahnya, masuk ke biara menjadi bhiksu.

Petani ini setelah menjadi kultivator hatinya sangat teguh berkultivasi, tetapi setiap dia melihat hamparan padang rumput yang hijau, hatinya selalu teringat kepada cangkulnya. Dia selalu tanpa bisa menahan hatinya lari pulang kerumahnya membuka bungkusan kain, mengelus-elus cangkulnya, kemudian dibungkus kembali kemudian pulang kembali ke biara.

Setelah berkultivator selama 7-8 tahun, dia lalu berpikir, “Kenapa begitu lama saya berkultivasi sudah beberapa tahun, tetapi masih belum mendapat apa-apa?

Setelah dipikirkan dia menyadari bahwa adalah sesuatu keterikatan yang sangat besar yang belum bisa dia lepaskan! Dia bertekad akan melepaskan keterikatan ini, lalu dia pulang kerumahnya, mengambil cangkulnya membawanya ke sebuah danau yang sangat besar, dia mengelilingi danau ini beberapa kali, lalu dengan sekuat tenaganya membuang cangkul itu ke dalam danau. Beban dihatinya bagaikan batu yang besar juga terasa lepas begitu saja.

“Saya sudah berhasil!, saya telah menang!” Dia berteriak dengan gembira.

Pada saat itu kebetulan ada seorang raja dengan para panglima dan prajurit yang menang perang melewati danau. Dari jauh raja sudah mendengar petani yang berteriak dengan gembira itu. Raja yang berada diatas pelana kudanya, lalu mendekatinya dan bertanya kepadanya.

“Engkau memenangkan apa, kenapa demikian gembira?” tanya Raja.

“Saya bisa memenangkan iblis didalam hati saya, saya telah melepaskan semua keterikatan di dalam hati saya,” jawab petani kultivator itu.

Raja melihat dia demikian gembira, benar-benar kegembiraan yang terlepas dari dasar hatinya, bebas bahagia, lalu dia memikirkan keadaan dirinya sendiri, saya mempunyai kekuasaan yang demikian besar, membawa pasukan yang sangat besar, memenangkan peperangan, tapi apakah saya merasa senang, apakah hati saya merasa tenang?

Dia berpikir dia tidak seberuntung kultivator ini, oleh sebab ini raja sangat salut kepada kultivator ini, dia beranggapan dapat mengalahkan iblis didalam hati diri sendiri, ini barulah bisa menjadi orang suci sejati, sedangkan mengalahkan musuh hanyalah duniawi.

Sekarung Permata

Sekarung Permata

Di pagi buta, ketika matahari belum terbit, seorang nelayan menuju ke tepi sungai. Di pantai berpasir kakinya menyenggol sesuatu, rupanya adalah sekarung batu.

Dia mengangkat karung ini, meletakkan jaringnya disebelahnya, duduk di pantai menunggu matahari terbit.

Dia sedang menunggu matahari terbit, setelah itu dia akan mulai melakukan pekerjaan sehari-harinya.

Dengan malas dia duduk disana menunggu sambil merogoh sebutir batu dari dalam karung lalu dilemparkan dengan iseng ke dalam sungai, sebelum matahari terbit tidak bisa melakukan apa-apa lagi, lalu dia melanjutkan melempar sebutir demi sebutir batu ke dalam sungai.

Perlahan-lahan, matahari mulai terbit, langit mulai terang, pada saat ini hanya tinggal sebutir batu yang ada ditangannya yang lain sudah dilempar semua kedalam sungai.

Hanya tinggal batu terakhir ditangannya, ketika dia melihat sinar matahari yang menyinari batu yang berada ditangannya ini, hatinya berdenyut dengan kencang seperti akan berhenti. Itu adalah sebutir batu permata! Didalam kegelapan, dia melempar habis satu karung permata ke sungai!

Tanpa sengaja kerugian yang dideritanya ini tak terhitung! Dia mulai memaki diri sendiri yang bodoh, dia sangat menyesal dan mulai meratap sampai hampir kehilangan kesadaran.

Tanpa sengaja dia menemukan harta yang dapat membuat dia hidup senang seumur hidupnya, tetapi tanpa sengaja, didalam kegelapan malam, dia melemparkan semuanya ke dalam sungai.

Walau begitu dia cukup beruntung karena masih ada sebutir permata yang tersisa, sebelum dia kehilangan sebutir permata yang terakhir ini, hari sudah terang. Dapat dikatakan dia masih cukup beruntung, kebanyakan orang tidak akan seberuntung seperti dia.

Disekeliling terlihat gelap, tetapi waktu berlalu dengan cepat, ketika matahari belum terbit kita sudah menghabiskan seluruh permata dari nyawa kita.

Nyawa ini adalah sebutir gudang permata yang sangat besar, manusia tidak mempergunakannya dengan sebaik-baiknya, hanya menyia-nyiakannya.

Ketika kita sadar betapa pentingnya nyawa ini, kita telah menghabiskan seluruh waktu yang tersisa. Rahasia dari kehidupan, gembira, belas kasih, bijaksana….. seluruhnya telah terbuang habis. Kehidupan seseorang berlalu begitu saja.

Hati Nurani

Hati Nurani

Ada seorang tua berupaya agar ketiga anaknya memperoleh lebih banyak pengalaman hidup. Suatu saat ia berkata kepada ketiga anaknya itu.

“Kalian pergilah merantau, setelah 3 bulan kalian kembali kerumah, ceritakan pengalaman yang paling berkesan selama kalian merantau, saya akan melihat perbuatan diantara kalian bertiga yang paling bisa dibanggakan,” katanya.

Ketiga anaknya setelah mendengar perkataan bapaknya, mulai melakukan perjalanan.

Tiga bulan berselang, mereka bertiga sudah kembali ke rumah, bapaknya bertanya kepada mereka perbuatan yang paling bangga yang telah mereka lakukan. Satu persatu anak-anaknya mengisahkan pengalaman mereka.

“Saya bertemu dengan seseorang, dia menitipkan sekantong permata berharga kepada saya, dia sendiri tidak tahu berapa jumlah permata didalam kantong itu, jika saya mengambil beberapa butir dia juga tidak akan tahu, ketika orang ini mengambil titipannya, saya menyerahkan seperti semula tanpa saya buka sama sekali,” kisah si anak sulungnya.

Setelah mendengar cerita anak sulungnya itu, bapaknya berkata kepadanya.

“Ini hal yang memang harus engkau lakukan, jika engkau mengambil beberapa butir, coba engkau pikirkan engkau akan berubah menjadi orang apakah?” komentar si Bapak.

Putra sulungnya mendengar komentar bapaknya, menganggapnya benar lalu pergi mengundurkan diri. Anak keduanya ganti menceritakan pengalamannya.

“Suatu hari saya melihat ada seorang anak kecil terjatuh di air, saya lalu menolongnya, keluarganya memberi saya hadiah besar, saya tidak menerimanya,” cerita anak kedua.

Mendengar kisah anak keduanya itu, bapaknya mengatakan kepadanya.

“Inipun memang yang seharusnya engkau lakukan, jika engkau melihat anak kecil itu mati tenggelam, apakah hatimu bisa tenang?” kata Bapaknya.

Setelah anak kedua mendengar komentar bapaknya itu, ia tidak berkata apapun. Lalu anaknya yang paling bungsu mengisahkan juga pengalamannya.

“Pada suatu hari saya melihat seorang yang sakit pingsan dipinggir jurang di jalan pegunungan, jika sedikit membalikkan badan saja sudah akan terjatuh dalam jurang, saya mendekatinya melihat, orang itu rupanya adalah musuh besar saya, dahulu beberapa kali saya berpikir untuk membalas dendam, tetapi tidak punya kesempatan, sekarang kesempatan ini muncul, saya tidak memerlukan tenaga mendorong, dia sudah akan terjatuh ke dalam jurang, tetapi saya mengantarnya pulang ke rumah,” kisah anak bungsu.

Bapaknya tidak menunggu dia habis berbicara, lalu dengan memuji ia mengatakan kepadanya.

“Perbuatan kedua kakakmu melakukan hal yang memang secara hati nurani dilakukan setiap orang, tetapi perbuatanmu dengan budi membalas rasa dendam, itu adalah perbuatan yang sangat terpuji.”

Melakukan perbuatan yang memang harus dilakukan, adalah hal yang wajar yang tidak mengkhianati hati nurani, tetapi melakukan perbuatan yang tidak ingin dilakukan, barulah hal itu membuat hati nurani ini dapat bersinar terang.

Cerita diatas, mengisahkan ketiga bersaudara ini melakukan hal yang tidak menyimpang dari permintaan hati nurani, anak sulung tidak tamak, anak kedua menolong orang yang kesusahan, kedua perbuatan ini adalah hal yang wajib dan memang seharusnya dilakukan oleh semua manusia. Sedangkan anak bungsu yang mempunyai dada yang lapang dan mau memaafkan musuhnya, malahan menolong musuhnya, hati nuraninya menyuruh dia tidak melakukan hal yang jahat, malahan bisa melakukan perbuatan baik yang tidak semua orang bisa lakukan, terlihat dari sini dia melupakan seorang yang bisa menjadi panutan bagi orang lain.

Kisah Menyentuh Seorang Ibu Tua

Kisah Menyentuh Seorang Ibu Tua


Ini cerita dari Jepang kuno. Mudah2an bisa diambil hikmahnya…

Konon pada jaman dahulu, di Jepang ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya.

Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan. Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.
“Bu, kita sudah sampai”,kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya.
Si ibu , dengan tatapan penuh kasih berkata: “Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang.
Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan”.
Demi mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak. Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang, dan ,merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.

Mungkin cerita di atas hanya dongeng. Tapi di jaman sekarang, tak sedikit kita jumpai kejadian yang mirip cerita di atas. Banyak manula yang terabaikan, entah karena anak-anaknya sibuk bisnis dll. Orang tua terpinggirkan, dan hidup kesepian hingga ajal tiba. Kadang hanya dimasukkan panti jompo, dan ditengok jkalau ada waktu saja.

Kiranya cerita di atas bisa membuka pengertian kita, untuk bisa mencintai orang tua dan manula. Mereka justru butuh perhatian lebih dari kita, disaat mereka menunggu waktu untuk dilahirkan kembali. Ingatlah perjuangan mereka pada waktu mereka muda, membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, membekali kita hingga menjadi seperti sekarang ini.

SELAMAT HARI IBU
22 DESEMBER 2010

Kasih Sayang Seorang Ibu

Kasih Sayang Seorang Ibu


Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya. Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi.

Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang. Ia sering berdoa : “Sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tidak lagi melakukan kamma buruk. Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia menjadi baik sebelum aku mati”

Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya. Sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya.

Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun dia tertangkap. Kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk diadili dan dijatuhi hukuman pancung. Pengumuman itu diberitakan ke seluruh desa. Hukuman akan dilakukan keesokan hari di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi

Berita hukuman mati itu sampai ke telinga si ibu. Dia menangis meratapi anak yang sangat dikasihinya dan berkata dalam batinnya : “Sungguh malang nasibmu Nak. Biarlah ibu yang sudah tua ini yang menggantikanmu”

Dengan tertatih – tatih dia mendatangi raja dan memohon belas kasihan Raja agar ia diijinkan menggantikan hukuman raja dan anaknya dibebaskan. Tapi keputusan Raja sudah bulat, anakknya harus menjalani hukuman.

Dengan hati hancur, ibu kembali ke rumah. Tak hentinya dia menangis dan mengharapkan anaknya terbebas dari hukuman. Akhirnya dia tertidur karena kelelahan. Ia bermimpi anaknya dibebaskan.

Keesokan harinya, di tempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong-bondong menyaksikan hukuman tersebut. Sang algojo sudah siap dengan pedangnya yang tajam dan berkilat. Anak itu juga sudah pasrah dengan nasibnya. Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya.

Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Detik demi detik berlalu, lonceng belum juga berdentang. Sudah lewat lima menit dan rakyat mulai berisik. Akhirnya petugas yang membunyikan lonceng datang. Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada.

Saat mereka semua sedang bingung, tiba-tiba dari tali lonceng mengalir darah segar. Darah itu berasal dari atas tempat lonceng itu diikat.

Dengan jantung berdebar seluruh rakyat menantikan kabar saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber aliran darah.

Tahukah apa yang terjadi?

Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk bandul lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi. Dan sebagai gantinya, kepalanya hancur terbentur dinding lonceng.

Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si anak meraung - raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan. Ia menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya.

Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di bandul lonceng. Memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya.

Sungguh mulia pengorbanan sang Ibu.

Catatan :
Artikel ini dipersembahkan untuk menghormat jasa kebajikan para ibu di seluruh dunia.
Adalah kuajiban anak-anak untuk membahagiakan orangtua.
Bila sebagai anak tidak mampu membahagiakan orangtua, hendaknya anak tidak menyusahkan orangtua.

Sudahkah kita semua menghormat orangtua kita masing-masing?
Selamat hari Ibu.

Sebatang Ginseng

Sebatang Ginseng

Alkisah di sebuah desa ada seorang bapak sedang pergi ke pasar. Dia melihat seorang pedagang sedang menjual sesuatu. Lalu dia bertanya kepadanya.

“Ini apa?”

”Ginseng,” jawab si pedagang.

Dijawab lagi oleh si Bapak: “Ini ginseng beneran?” Pedagang menjawab: “Tentu saja, ini adalah ginseng pegunungan.”

Si Bapak bertanya kembali: “Berapa harganya?” Pedagang ginseng ini menjawab, ”800 Yuan.”

Bapak dari desa kami ini memang sudah lama ingin membeli ginseng, hari ini kebetulan bertemu. Akhirnya dia menyerahkan 800 Yuan membeli ginseng ini.

Ketika pulang ke rumah, penduduk desa seorang pakar ginseng setelah melihat ginseng yang dibeli olehnya lalu berkata,” Ini bukan ginseng pegunungan, ini adalah sebatang akar sayur sawi.”

“Benarkah?” berarti saya tertipu.”

Dia dengan ringan menjawab, hatinya tidak merasa kesal dan marah.

Dia berpikir ini memang sudah nasib saya, mungkin di kehidupan yang lain saya berhutang kepada orang ini, maka sudah pantas sekarang saya membayarnya.

20 tahun telah berlalu, pada suatu malam bapak yang membeli ginseng ini bermimpi, dengan jelas seseorang berkata kepadanya, “Hari ini saya datang membayar hutang, masih ingat ginseng yang engkau beli, itu bukan ginseng tetapi itu adalah akar sayur sawi.”

Ketika dia terbangun, tidak ada orang yang datang membayar hutang kepadanya, itu hanya mimpi.

Keesokan harinya lembu yang dipeliharanya melahirkan seekor lembu kecil. Setelah setahun berlalu lembu kecil ini sudah besar.

Dia menarik lembunya ke pasar untuk dijual, setelah seharian ditawar oleh beberapa orang, semua harga yang ditawar adalah 800 Yuan, tidak ada seorangpun yang menawar lebih atau kurang dari 800 Yuan.

Bapak ini teringat, “Ini seperti mimpi saya setahun yang lalu, mungkin dia memang datang membayar hutang kepada saya.”

Di dalam hatinya berpikir demikian, lalu dia menarik lembunya kepinggir dan bertanya, “Lembu kecil, apakah engkau datang untuk membayar hutangmu? Jika benar engkau harus tambah sedikit supaya saya bisa membeli sebungkus nasi, hari sudah mulai gelap.”

Begitu perkataannya habis dikatakan, dari depannya datang seorang pembeli, orang ini membuka mulut menawar lembunya dengan harga 800 Yuan.

Dia berkata,”Tambah sedikit lagi Tuan.”

Pembeli menjawab: “Tidak bisa, hari sudah mulai gelap, ini saya tambahkan sedikit, namun hanya cukup beli sebungkus nasi.”

Penjual lembu ini segera mengerti lalu menjual lembunya kepada orang ini.

Ini pengalaman dalam hidup manusia, setiap niat pikiran dan perbuatan manusia akan mendapat balasan di kemudian hari, seseorang yang melakukan sesuatu yang tidak baik dikemudian hari dia harus membayar apa yang dilakukannya. Semua ini adalah hukum karma, percaya atau tidak, tentu tergantung masing-masing individu.

Lebih Berharga dari Batu Permata

Lebih Berharga dari Batu Permata

Ada seorang wisatawan sedang berwisata di sebuah hutan. Pada suatu hari, ketiga dia berada di pinggir sungai ia menemukan sebutir batu permata. Wisatawan ini lalu memungut batu permata ini dan memasukkannya kedalam ranselnya.

Keesokan harinya, dia bertemu dengan seorang pejalan kaki yang dalam keadaan sedih dan kuyu. Pejalan kaki ini bercerita kepada wisatawan ini bahwa dirinya adalah seorang pedagang, tetapi beberapa waktu yang lalu telah bangkrut, kehidupan pribadinya juga mengalami masalah. Kali ini dia keluar berwisata adalah untuk memperbaiki suasana hatinya, tidak disangka dia tersesat dalam hutan ini, semua perbekalan yang dibawa telah dimakan habis, sekarang dia sangat kelaparan dan kehausan. Mendengar ceritanya wisatawan ini tanpa sangsi mengeluarkan perbekalan yang tersisa sedikit membagi makan dengan pejalan kaki ini.

Ketika wisatawan ini membuka tas ranselnya, pejalan kaki ini melihat batu permata yang terdapat dalam ranselnya, lalu berkata, dirinya sekarang sangat mengharapkan akan mendapat bantuan modal supaya dapat memulai bisnis lagi. Wisatawan ini mengeluarkan batu permatanya tanpa sangsi menyerahkan kepada pejalan kaki ini.

Pejalan kaki ini sangat gembira, setelah wisatawan ini meninggalkannya, dia memeriksa batu permata ini. Ini ada sebutir batu permata yang sangat berharga, jika dijual, akan cukup membiaya sisa hidupnya. Pedagang ini dengan gembira merayakan keberuntungan nasibnya, tetapi hatinya merasa tidak enak, kenapa wisatawan ini terhadap permata yang demikian berharga sedikitpun tidak pelit.

Beberapa hari kemudian, kedua orang ini bertemu lagi, begitu bertemu, pedagang ini mengembalikan permata berharga ini kepada wisatawan ini. Dia berkata kepada wisatawan ini, “Setelah engkau meninggalkan saya, saya berpikir sampai lama, di dalam diri kamu ini ada barang apakah sehingga bisa dengan tidak pelit menyerahkan kepada saya batu permata yang berharga ini? Saya berpikir, barang ini pasti lebih berharga dari batu permata, benda itu mungkin lebih saya butuhkan.”

Berubah Menjadi Baik

Berubah Menjadi Baik

Pada suatu hari, ketika seorang petapa sedang meditasi di biara, tiba-tiba seorang perampok masuk kedalam biaranya. Perampok mengancam petapa memakai pisau yang tajam dan mengkilat mengancam petapa sambil menghardik.

“Cepat keluarkan semua uang yang ada dilemari ini, kalau tidak engkau akan kubunuh!” hardik perampok.

“Uangnya ada di laci, di lemari tidak ada uang, engkau sendiri yang ambil, tetapi tolong tinggalkan sedikit karena beras saya sudah habis, jika engkau tidak tinggalkan sedikit besok saya akan kelaparan!” kata si petapa.

Perampok itu mengambil semua uang yang ada di laci, ketika hendak meninggalkan tempat itu petapa itu berkata, “Setelah menerima pemberian dari orang lain, seharusnya engkau mengucapkan terima kasih!”

“Terima kasih,” kata perampok itu.

Ketika dia membalikkan badan akan meninggalkan tempat ini hatinya sangat kacau, belum pernah dia mengalami keadaan seperti ini, dia berhenti sekejab, lalu teringat dia tidak boleh membawa pergi semua uang tersebut, lalu dia mengambil segenggam diletakkan di meja dan meninggalkan tempat itu.

Beberapa waktu kemudian, akhirnya perampok ini ditangkap oleh polisi. Setelah diintrogasi, dia mengakui perbuatannya, lalu polisi membawanya ke biara petapa itu.

Polisi bertanya kepada petapa, “Beberapa hari yang lalu perampok ini datang kesini merampok, benarkah?”

“Dia tidak merampok saya, saya yang memberi uang itu kepadanya. Ketika dia meninggalkan tempat itu dia masih sempat mengucapakan terima kasih, demikianlah kejadian yang sebenarnya,” jawab petapa.

Si perampok mendengar perkataan petapa yang sangat toleran ini, hanya bisa menggigit bibirnya, wajahnya basah oleh air mata, tidak dapat mengucapkan sepatah katapun lalu mengikuti polisi meninggalkan tempat itu.

Perampok ini ketika dibebaskan dari penjara, datang ke biara menemui petapa, memohon kepada petapa menerima dia sebagai muridnya. Namun petapa itu tidak mengizinkan, orang ini lalu berlutut diluar biara 3 hari 3 malam, akhirnya petapa menerima dia menjadi muridnya.

Orang yang berbuat kesalahan dapat bertobat dan berubah menjadi baik, sesuatu hal yang patut ditiru.

Mata Rantai

Mata Rantai

Ada seorang kultivator, dia bermaksud meninggalkan desanya menuju suatu tempat yang sunyi untuk berkultivasi (menempa diri/mental). Dia hanya membawa sehelai kain, lalu naik ke gunung untuk berkultivasi.

Ketika dia hendak mencuci pakaian dia memerlukan sehelai kain yang lain sebagai pengganti, akhirnya dia turun gunung meminta sehelai kain kepada penduduk desa.

Penduduk desa sudah mengenalnya sebagai seorang kultivator yang taat, tanpa banyak bertanya mereka memberinya sehelai kain sebagai pakaian pengganti.

Ketika kultivator ini sampai di gubuknya di atas gunung, dia melihat seekor tikus. Tikus ini sering datang mengganggunya ketika dia sedang bermeditasi, mengigit pakaian penggantinya.

Karena dia telah bersumpah seumur hidupnya tidak akan membunuh mahluk hidup, oleh sebab itu dia tidak menyakiti tikus ini, tetapi dia tidak mempunyai cara mengusir tikus ini, akhirnya dia turun ke gunung meminta seekor kucing untuk dipelihara.

Setelah dia memelihara kucing tersebut, lalu dia berpikir, “Apa yang harus dia makan? Saya tidak ingin dia memangsa tikus tersebut, tetapi tidak mungkin dia seperti saya hanya memakan buah dan sayuran saja.“

Akhirnya dia pergi lagi ke desa meminta seekor lembu betina, sehingga kucing ini bisa meminum susu lembu.

Tetapi setelah beberapa lama berada di atas gunung, dia merasa dia telah membuang terlalu banyak waktu untuk memelihara lembu betina ini. Akhirnya dia turun gunung lagi pergi ke desa, mencari seorang gelandangan yang sangat miskin, dia lalu membawa gelandangan yang tidak mempunyai rumah ini naik ke gunung tinggal bersamanya dan menyuruh dia mengurus lembu betinanya.

Gelandangan ini setelah beberapa lama tinggal di atas gunung lalu mengeluh kepada kultivator.

“Saya tidak sama dengan engkau, saya memerlukan seorang istri, saya memerlukan kehidupan berkeluarga seperti orang biasa,” ujar gelandangan itu.

Kultivator ini setelah mendengar keluhan itu, merasa benar juga tidak mungkin gelandangan ini akan seperti dia hanya berkultivasi.

Cerita ini jika diteruskan, kalian pasti dapat menerkanya, akhirnya apa yang akan terjadi? Mungkin setelah setengah tahun berlalu, seluruh isi desa akan di pindahkan keatas gunung.

Cerita ini sebenarnya terjadi di dalam kehidupan kita semua, timbulnya keinginan bagaikan sebuah mata rantai, dia akan merantai kita terus menerus, selamanya tidak ada kepuasan. Hal yang paling menyedihkan adalah manusia selalu mencari alasan yang tidak masuk akal untuk memenuhi keinginannya.

Hati yang Penuh Syukur

Hati yang Penuh Syukur


Alkisah, di sebuah senja kelabu di pinggiran kota kecil Taiwan, tampak seorang laki-laki sedang berjalan pulang ke rumah dari tempat kerjanya sebagai supir taksi. Tiba-tiba, perhatiannya tertuju pada gerakan rumput dan suara gemerisik di sela-sela bebatuan di tepi jalan.

Segera, dihampiri dengan perasaan sedikit was was. Seketika, matanya terbelalak kaget melihat bungkusan berisi bayi merah yang tergeletak di situ. Setelah melihat di sekeliling tempat itu yang tampak sepi-sepi saja, segera diangkat bungkusan bayi itu dengan hati-hari dan dengan tergopoh-gopoh dibawa pulang ke rumahnya.

Setelah terkaget-kaget mendengar cerita dan melihat temuan suaminya, si istri segera mengambil alih menggendong si bayi dengan perasaan sayang. Mereka adalah sepasang suami istri, yang telah lama mendambakan kehadiran anak di tengah keluarga. Bayi yang masih merah itu menjadi buah kamma baik yang sangat manis untuk keluarga mereka.

Waktu terus berjalan. Selang kira-kira usia dua tahun, karena merasa ada yang janggal dengan kemampuan berbicara dan reaksi pendengarannya yang sangat lambat, kedua orangtua itu membawa anaknya ke rumah sakit. Kecurigaan mereka pun terjawab, anak tersebut memang cacat sejak lahir, yaitu bisu tuli. Walaupun sempat terpukul sesaat, namun perasaan sayang yang telah terpupuk selama ini, membuat mereka memutuskan untuk tetap memelihara dan membesarkan si kecil yang sedang lucu-lucunya.

Tahun pun dengan cepat berganti. Walaupun cacat, si gadis kecil adalah anak yang cerdas dan mendapat pendidikan yang baik di sekolah luarbiasa hingga mampu lulus SMA. Setelah lulus, melalui tes dia diterima masuk untuk bidang seni di perguruan tinggi kota besar.

Perasaan gembira dan sedih pun silih berganti. Gembira karena diterimanya si anak ke universitas terkenal, sedih harus berpisah jauh dan dibutuhkan biaya yang besar untuk itu.

Demi mewujudkan impian anaknya, kedua orangtua itu bertekad untuk berhemat dan bekerja mati-matian. Sejak saat itu, si ayah bekerja sangat keras, hampir setiap hari pulang ke rumah hingga larut malam.

Namun… hidup memang sering tidak sesuai dengan rencana manusia. Di saat kuliah memasuki tahun ke-2, suatu malam si ayah pergi dan tidak pernah kembali. Taksi yang dikendarainya bertabrakan dan nyawanya tidak terselamatkan.

Si anak tahu, betapa berat beban biaya yang harus dipikul ibunya dan dia memutuskan untuk berhenti kuliah, pulang dan bekerja serta menemani ibunya di rumah.

Mengetahui itu, si ibu sangat tersentuh dengan pengertian anaknya. Tetapi, ia menegaskan, “Ibu tahu kesedihanmu, Nak. Ibu juga sangat kehilangan ayahmu. Tetapi kamu tidak boleh berhenti kuliah. Belajarlah yang benar! Selesaikan kuliahmu secepatnya dan ibu tunggu kepulanganmu dengan ijazah di tangan. Dan setiap bulan, ibu akan berusaha mengirimkan uang untuk biaya mu di sana. Ingat, jangan berpikir pulang sebelum kuliahmu selesai. Jika kamu gagal, ibu dan ayahmu di alam sana pasti kecewa karena kerja keras dan pengorbanan kami selama ini akan sia-sia.”

Waktu terus berjalan. Selesai wisuda, dengan bangga dan kegembiraan yang meluap serta kerinduan yang sangat, si anak segera pulang ke desanya.

Setiba di rumah, dia mengetuk berulangkali pintu rumahnya yang tertutup rapat. Dan sungguh tidak pernah diduga sama sekali, pertemuan dengan tetangganya ternyata membuat hatinya lumpuh seketika.

“Nak, ibumu setahun lalu telah meninggal dunia. Maafkan kami tidak memberitahu karena ibumu meminta kami bersumpah untuk merahasiakannya. Semua sisa uang tabungan ibumu dititipkan ke kami untuk dikirimkan kepadamu setiap bulan dan dia pun meminta kami membalaskan surat-suratmu. Masih ada satu rahasia besar yang sebenarnya ayah ibumu sembunyikan darimu. Bahwa kamu sesungguhnya bukan anak kandung mereka. Walaupun kamu cacat dari bayi, mereka tidak peduli. Mereka tetap menyayangimu melebihi anak kandung sendiri.”

Mendengar semua cerita tentang dirinya, duka yang mendalam tidak mampu diwujudkan dalam teriakan histeris. Hanya derasnya airmata yang mengalir tak terbendung.

Di depan makam kedua orangtuanya, sambil bersimbah air mata, si gadis bersujud dan mendoakan kebahagiaan orangtuanya.

Dan, demi mengenang dan mencurahkan rasa syukur yang besar atas kasih sayang dan pengorbanan kedua orangtuanya, lahirlah sebuah puisi yang sangat menyentuh, berjudul :

Gan En De Xin
(Hati yang Penuh Syukur)

Terjemahan bebas isi puisi tersebut selengkapnya adalah :

Aku datang secara kebetulan seperti sebutir debu
Siapa yang mengetahui… saat aku begitu lemah
Entah dari mana aku datang… dan di manakah cintaku berada
Siapa… yang akan menyapaku di kemudian hari

Walaupun dunia ini begitu luas
Tetapi perjalanan ini begitu berat untuk dilalui
Begitu banyak penderitaann terasa mendera
Berapa banyak cinta… yang masih kumiliki
Berapa banyak tetes air mata yg masih kupunyai

Biarkanlah Tuhan mengetahui …Aku tak akan pernah mengaku kalah
Aku bersyukur ada engkau Ibu yg menemaniku sepanjang hidup ku
Hingga membuat ku mampu menjadi diri sendiri
Aku bersyukur … aku berterima kasih pada keadaan ku ini
Dalam duka dan bahagia aku tetap bersyukur

___________________
Akhirnya isi puisi ini dijadikan sebuah lagu dan dinyanyikan oleh penyanyi terkenal OW YANG FEI FEI

Lagu ini kerap menjadi theme song untuk pengambilan dana sosial…dan disumbangkan kepada yang membutuhkan..

Karena sejatinya setiap insan wajib bersyukur atas segala kamma baik yang dialaminya
Dan wujud syukur patut disalurkan kepada mereka yg sedang kurang beruntung..

Semoga kisah ini bisa mengilhami kita untuk senantiasa bersyukur atas hidup yang sedang kita jalani…
Apapun kesedihan dan penderitaan yang sedang kita alami..

MARILAH SELALU BERSYUKUR !!!

Hanya orang yang mampu bersyukur adalah orang yang kaya dalam arti kata sebenarnya…